- 2017 (9)
- 2016 (69)
- 2015 (38)
-
2014
(122)
-
Desember(21)
- Abdiku Untukmu Keluarga Kecilku
- 10 Tips Meningkatkan Daya Kreativitas
- Filosofi Sungai
- Pria, Cinta dan Matahari
- Mengasah Jiwa Entrepreneur
- Di Seberang Padang Rumput Ilalang
- Bahasa Aneh -- Dongeng dari Negeri Swiss
- Ada Teman di Balik Pelangi
- Rencana Allah Pasti Indah
- Diantara Mahasiswa dan Dosen
- Cinta Titik
- My Book Diary
- Uji Sugestibilitas : Perlukah?
- The Girl Who Silenced The World For 5 Minutes
- Bangkit dari Keterpurukan
- Tunanetra? Aku Bisa!
- Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
- Kupu-Kupu di Dalam Hujan
- Aku Juga Wanita
- Gubuk
- 2,5 Persen Saja
- November(6)
- Oktober(8)
- September(15)
- Agustus(9)
- Juli(5)
- Juni(6)
- Mei(18)
- April(11)
- Maret(10)
- Februari(13)
-
Desember(21)
- 2011 (3)
Blog Archive
-
▼
2014
(122)
-
▼
Desember
(21)
- Abdiku Untukmu Keluarga Kecilku
- 10 Tips Meningkatkan Daya Kreativitas
- Filosofi Sungai
- Pria, Cinta dan Matahari
- Mengasah Jiwa Entrepreneur
- Di Seberang Padang Rumput Ilalang
- Bahasa Aneh -- Dongeng dari Negeri Swiss
- Ada Teman di Balik Pelangi
- Rencana Allah Pasti Indah
- Diantara Mahasiswa dan Dosen
- Cinta Titik
- My Book Diary
- Uji Sugestibilitas : Perlukah?
- The Girl Who Silenced The World For 5 Minutes
- Bangkit dari Keterpurukan
- Tunanetra? Aku Bisa!
- Wiro Sableng #38 : Iblis Berjanggut Biru
- Kupu-Kupu di Dalam Hujan
- Aku Juga Wanita
- Gubuk
- 2,5 Persen Saja
-
▼
Desember
(21)
About Me
Pengikut
IKLAN
Gubuk
Senandung angin mengusik celah kayu jendela, menerobos masuk menusuk tulang renta seorang perempuan yang tebaring di samping anaknya. Rembulan malam tidak sedang menangis, seakan memandang dua orang itu dengan penuh iba. Renggekan anak kecil di sisinya membuat perempuan itu terjaga. Dipaksanya membuka kedua mata yang baru saja dapat terpejam. Rasa lelah tidak lagi membuatnya terlelap. Tangisan anak perempuan yang masih berusia 1 tahun itu, menuntutnya untuk terjaga. Diangkatnya tubuh mungil anak itu, diciumi kedua pipinya. Namun, tetap saja anak itu menangis dan semakin menjadi-jadi. Terlihat ia sedang menahan sakit di kepalanya yang mungil.
Mentari memandang deretan rumah-rumah kumuh di bantaran sungai yang sudah keruh. Air limbah merasa tak bersalah mengalir begitu saja dari pabrik tekstil yang berdiri dengan angkuhnya. Padahal orang-orang sekitar menggantungkan sebagian hidupnya pada sungai itu. Setiap pagi terlihat ibu-ibu mengambil air dan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Kini pandangan mentari beralih pada gubuk kayu tepat di bawah jembatan. Sinarnya mengetuk pintu tua dan tanpa ijin masuk lewat lubang sebesar koin lima ratusan. Di sapanya perempuan yang sedari tadi malam tidak tidur karena menjaga anaknya. Tangan p
... baca selengkapnya di Gubuk Cerita Motivasi dan Inspirasi Nomor 1

0 komentar:
Posting Komentar